Tampilkan postingan dengan label Normatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Normatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2016

PENDAIS

ETOS KERJA DALAM ISLAM

B. Pengertian Etos Kerja
Yang dimaksud etos kerja adalah nilai yang melandasi norma-norma tentang kerja. Etos berarti watak dasar suatu masyarakat, sedangkan perwujudan luarnya adalah struktur dan norma sosial. Dalam masyarakat yang memiliki penghargaan tinggi terhadap kerja, orang yang menganggur biasanya mempunyai status sosial rendah atau dianggap rendah. Dalam masyarakat seperti ini, semangat dan produktivitas kerja warga masyarakat biasanya tinggi, misalnya yang tampak pada masyarakat Jepang.

C. Tinjauan Tentang Teori Kependidikan
3.1. Teori Kependidikan secara umum
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa pada orang lain agar ia menjadi dewasa. Pendidikan juga diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Sampai saat ini pengertian pendidikan selalu mengalami perkembangan meskipun secara esensial tidak jauh berbeda. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli, di antaranya yaitu:

a. Langeveld
Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada kedewasaan anak. Pengaruh ini datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari, dan sebagainya) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa.

b. Ki Hajar Dewantara
Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya; pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

c. Menurut UU Nomor 2 tahun 1989
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Meskipun secara redaksional pendapat-pendapat tersebut berbeda, namun secara esensial terdapat kesatuan unsur atau faktor, yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan, atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya.
Dari beberapa teori tentang pendidikan tersebut di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa pendidikan mempunyai beberapa tujuan, antara lain:
a. mengarahkan anak menjadi manusia dewasa (Langeveld, terj. 1971)
b. tercapainya keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara)
c. menyiapkan peserta didik agar mampu berperan di masa yang akan dating (UU)

3.2. Etos kerja dalam Islam dan teori Kependidikan
Dalam al-Qur’an dan al-hadits, konsep etos kerja dalam Islam mempunyai tiga komponen penting yaitu ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib.
Secara terminologi beberapa ahli pernah mengajukan rumusan tentang konsep pendidikan Islam. Dalam buku Crisis in Muslim Education, Syed Sajjad Husein dan Syed Ali As-Raff menjelaskan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih perasaan murid-murid dengan begitu rupa, sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual dan sadar akan nilai etis Islam.
Akan tetapi mayoritas para ahli dan pemikir pendidikan lebih setuju mengembangkan konsep pendidikan Islam dari istilah tarbiyah dibanding ta’lim dan ta’dib dengan argumen bahwa cakupan istilah tarbiyah lebih luas, bahkan ta’lim dan ta’dib implisit didalamnya.

Kamis, 25 Agustus 2016

PENDAIS

Hasil gambar untuk tentang etos kerja dalam alquran
Pada pelajaran ini kita hanya mendiskusikan tentang etos kerja dalam alquraan

PENGERTIAN ETOS KERJA
Secara etimologis, etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti karakter, watak kesusilaan, kebiasaan atau tujuan moral seseorang serta pandangan dunia mereka, yakni gambaran, cara bertindak ataupun gagasan yang paling komprehensif mengenai tatanan.1 Dari kata etos ini dikenal pula kata etika, etiket yang hampir mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Sebagai suatu subjek dari arti etos tersebut adalah etika yang berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu maupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakan itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Tasmara, etos kerja Islam adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh asset, pikiran, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang menundukan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairul ummah) atau dengan kata lain dapat juga 1 Ferry Novliadi, Hubungan antara Organization Based Self Esteem dengan Etos Kerja, (Medan: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2009), hal 4. 15 kita katakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.2 Menurut Sinamo, etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral.3 Menurut Usman Pelly etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja.4 Sedangkan etos kerja profesional adalah seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai komitmen yang total pada paradigma kerja yang integral. Setiap organisasi yang selalu ingin maju akan melibatkan anggota untuk meningkatkan mutu kerjanya, di antaranya setiap organisasi harus memiliki etos kerja.5 Anaroga menyatakan bahwa etos kerja adalah suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau suatu umat terhadap kerja.6 Anoraga juga 2Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islam, (Jakarta: Gema Insani Pers, 2002), hal. 15 3 Sinamo, Jansen, Delapan Etos Kerja Profesional, (Jakarta: Institut Mahardika, 2011), hal. 26 4 Nyoman Sukardewi, et. all, “Kontribusi Adversity Quotient (AQ) Etos Kerja dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Guru SMA Negeri di Kota Amlapura” dalam Jurnal Akuntansi Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, volume 4, 2013, hal. 3 5 Sinamo, Jansen, Delapan Etos Kerja,.... hal. 26 6 Panji Anoraga, Psikologi Kerja, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 29 16 memaparkan secara eksplisit beberapa sikap yang seharusnya mendasar bagi seseorang dalam memberi nilai pada kerja yang disimpulkan sebagai berikut: a. Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia. b. Pekerjaan adalah suatu berkat Tuhan. c. Pekerjaan merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral. d. Pekerjaan merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan berbakti. e. Pekerjaan merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih. Dari berbagai definisi di atas dapat dikatakan bahwa etos kerja adalah cara pandang seseorang dalam menyikapi, melakukan dan bertindak dalam bekerja, dengan kemauan organisasi, instansi maupun perusahaan sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik. Sikap mental seseorang atau kelompok orang dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan yang diwujudkan sebagai perilaku kerja antara lain tepat waktu, tanggung jawab, kerja keras, rasional dan jujur. 1. Kedisiplinan/tepat waktu Disiplin merupakan sikap mental yang tercermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. an-Nisa, ayat 59, yang berbunyi: 17

 يَا أَيَُٖا اىَرِيَِ آٍَُْ٘اْ أَطِيعُ٘اْ اىئَّ َٗأَطِيعُ٘اْ اىسَظُ٘هَ َٗأُْٗىِي األٍَْسِ ٍِْنٌُْ فَئُِ تََْاشَعْتٌُْ فِي شَيْءٍ فَسُّدُُٗٓ إِىَى اىئِّ َٗاىسَظُ٘هِ إُِ مُْتٌُْ تُؤٍَُُِْْ٘ تِاىئِّ َٗاىْيًَِْ٘ اآلخِسِ ذَىِلَ خَيْسٌ َٗأَحْعَُِ تَؤِْٗيالً ﴿٩٥
﴾ Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” 7 . (QS. an-Nisa: 59) Selanjutnya sehubungan dengan ciri-ciri etos kerja tinggi yang berhubungan dengan sikap moral yaitu disiplin dan konsekuen, atau dalam Islam disebut dengan amanah. Allah memerintahkan untuk menepati janji adalah bagian dari dasar pentingnya sikap amanah. Janji atau uqud dalam ayat tersebut mencakup seluruh hubungan, baik dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain dan alam semesta. Prinsip amanah pada awalnya sudah dikemukakan oleh Nabi Saw. dalam hadisnya:
 قَاهَ اىْقُسَشِىُّ حَدَّثَِْى أَتِى أََُّّٔ ظََِعَ زَظُ٘هَ اىئَِّ صيى اهلل عيئ ٗظيٌ يَقُ٘هُ )أَدِّ األَيَاََةَ إِنًَ يٍَِ ائْتًَََُكَ 8 وَالَ تَخٍُْ يٍَْ خَاََكَ
( Untuk menepati amanah tersebut dituntut kedisiplinan yang sungguh-sungguh terutama yang berhubungan dengan waktu serta kualitas suatu pekerjaan yang semestinya dipenuhi. 7 Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007). 8 Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz3, h. 414. 18 2. Tanggung jawab Semua masalah diperbuat dan dipikirkan, harus dihadapi dengan tanggung jawab, baik kebahagiaan maupun kegagalan. Sebagaimana fiman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 7, yang berbunyi:
 إُِْ أَحْعَْْتٌُْ أَحْعَْْتٌُْ ىِؤَّْفُعِنٌُْ َٗإُِْ أَظَؤْتٌُْ فَيََٖا فَئِذَا جَاءَ َٗعْدُ اىْآخِسَجِ ىِيَعُ٘ءُٗا ُٗجَُٕ٘نٌُْ َٗىِيَدْخُيُ٘ا اىََْعْجِدَ مَََا ّدَخَيُُ٘ٓ أََٗهَ ٍَسَجٍ َٗىِيُتَثِسُٗا ٍَا عَيَْ٘ا تَتْثِيسًا.
Artinya:“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai” 9 .(Q.S. Al-Isra’: 7) Sudah menjadi kewajiban bagi manusia sebagai mahluk yang mempunyai banyak kebutuhan dan kepentingan dalam kehidupannya untuk bekerja guna memenuhi segala kebutuhannya tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam hadis Rasulullah bersabda:
 اِعََْوْ ىِدُّْيَاكَ مَؤََّلَ تَعِيْشُ اَتَدًا َٗاعََْوْ ِآلخِسَتِلَ مَؤََّلَ تََُْ٘خُ غَدًا Artinya:“bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah engkau hidup selama-lamanya; dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari”. (H.R. Ibnu Asakir). 3. Kerja keras Kerja keras, dalam Islam diistilahkan dengan mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan 9 Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007). 19 kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik.. Hal ini dapat dijelaskan dalam firman Allah QS: Al-Ashr, ayat 1-3 yang berbunyi:
َٗاىْعَصْسِ .إَُِ اىْئِّْعَاَُ ىَفِي خُعْسٍ .إِىَا اىَرِيَِ ءَاٍَُْ٘ا َٗعََِيُ٘ا اىصَاىِحَاخِ َٗتََ٘اصَْ٘ا تِاىْحَّقِ َٗتََ٘اصَْ٘ا تِاىصَثْسِ .
Artinya:”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” 10 . (Q.S. Al-Ashr: 1-3) Hal tersebut dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan, tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.
 حَدَّثََْا أَتُ٘ ٍَعََْسٍ حَدَّثََْا عَثْدُ اىَْ٘ازِثِ عَِْ عَثْدِ اىْعَصِيصِ تِِْ صَُٖيْةٍ عَِْ أََّطِ تِِْ ٍَاىِلٍ زضى اهلل عْٔ قَاهَ مَاَُ زَظُ٘هُ اىئَِّ صيى اهلل عيئ ٗظيٌ يَتَعََّ٘ذُ يَقُ٘هُ )انهَّهُىَّ إًَِِّ أَعُىرُ تِكَ يٍَِ انْكَسَمِ، وَأَعُىرُ تِكَ يٍَِ انْجُثٍِْ ، وَأَعُىرُ تِكَ يٍَِ انْهَشَوِ ، وَأَعُىرُ تِكَ يٍَِ انْثُخْمِ.( Anjuran tentang ketekunan dan kerja keras telah tergambar dalam hadis Nabi Saw, seperti yang tersirat dalam hadis di atas, bahwa Nabi Saw. sangat membenci sifat-sifat dan perilaku yang mendorong kepada kemunduran, seperti malas, takut, bakhil dan lain sebagainya. 10 Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2007). 20 4. Rasional Mengerjakan sesuatu secara teratur, sesuai target dan sempurna merupakan sesuatu yang dicintai oleh Allah. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan prinsip-prinsip manajemen secara umum yaitu merencanakan, mengorganisir, melaksanakan, mengontrol dan mengevaluasi dalam rangka untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Secara tidak langsung prinsip-prinsip manajemen tersebut sangat dianjurkan dalam Islam dalam mengerjakan segala sesuatu. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi: أَتَؤٍُْسَُُٗ اىَْاضَ تِاىْثِسِ َٗتَْعََُْ٘ أَّفُعَنٌُْ َٗأَّتٌُْ تَتْيَُُ٘ اىْنِتَابَ أَفَالَ تَعْقِيَُُ٘ Artinya:”Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berpikir” 11 . (QS. Al-Baqoroh 2:44)

Sabtu, 20 Agustus 2016

IPS

Hasil gambar untuk GAMBAR MOBILITAS SOSIAL IPS

MOBILITAS SOSIAL

MOBILITAS SOSIAL
pengertian mobilitas adalah pergerakan atau perpindahan, sedangkan sosial adalah masyarakat.
jadi mobilitas sosial adalah suatu proses pergerakan naik(social climbing) atau turunnya(social sinking) status seseorang atau kelompok masyarakat.
menurut HORTON, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya.
dengan demikian MOBILITAS SOSIAL hanya terjadi pada kelas sistem stratifikasi sosial yg terbuka tidak menganut sistem stratifikasi tertutup atau kasta.
mobilitas sosial ada
         1. mobilitas sosial vertikal.
mobilitas sosial vertikal yaitu, mobilitas sosial yg terjadi antara kelas sosial bawah dan kelas sosial atas.

Kamis, 18 Agustus 2016

BAHASA INDONESIA

Pada hari ini kami disuruh membacakan pidato yang telah kami buat kita disuruh naik satu per satu untuk berpidato adapun pidato saya yaitu NARKOBA MEMBUNUHMU



                          Narkoba Membunuhmu

Assalamu•alaikum Wr Wb
Yang terhormat kepala SMK 1 Pinrang, yang saya hormati Bapak/Ibu Guru, serta staf tata usaha. dan teman-teman yang saya cintai.

        Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini. Tak lupa pula shalawat dan salam kita sanjungkan ke haribaan junjungan besar kita, nabi Muhammad Saw. Dialah sebagai seorang pendobrak dekadensi moral manusia. Melalui jerih payah, pengorbanan, dan perjuangan beliaulah, kita dapat terbebas dari kekufuran, kejahiliyahan dan kehinaan. Demikian halnya, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan untuk keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
       Pada hari ini saya akan menyampaikan pidato tentang Narkoba. Di Indonesia jumlah pengguna narkoba begitu besar, karena lemahnya penegakan hukum diIndonesia para pengedar internasional dapat bekerja sama dengan warga negara Indonesia dan memperoleh keuntungan yang besar. Penyalahgunaan Narkotika dan zat aditif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Sebagai dampaknya antara lain perubahan perilaku, gangguan kesehatan, menurunnya produktivitas kerja secara drastis, kriminalitas dan tindak kekerasan lainnya.
          Penyalahgunaan narkoba dapat dicegah melalui program-program diantaranya mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, tidak bergaul dengan pengguna atau pengedar narkoba, tidak mudah terpengaruh ajakan atau rayuan untuk menggunakan narkoba. Pengguna narkoba biasanya lebih didominasi oleh para remaja dan anak sekolah.
         Biasanya para remaja awalnya hanya mencoba barang haram tersebut lalu lama kelamaan mulai kecanduan  dan mulai ketagihan dengan barang haram tersebut, dan kebanyakan remaja melalui pergaulan bebas dengan dunia luar mereka
Pencegahaan pemakaian narkoba dapat di lakukan dengan memberikan kegiatan yang lebih  bermanfaat bagi remaja dan menghindari pergaulan bebas

Untuk itu marilah kita hindari dan jauhi serta ikut memberantas penggunaan narkoba.Demikianlah yang dapat saya sampaikan apabila ada kesalahan dalam bertutur kata,saya mohon maaf. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih dan saya akhiri.
Assalamu alaikum Wr.wb

PENDAIS

Kandungan Ayat
o   Allah SWT menyuruh kepada orang yang beriman agar memberikan kelapangan dan kelonggaran kepada orang lain dalam majlis ilmu, majlis zikir, dan segala majlis yang sifatnya mentaati Allah SWT dan Rosul-Nya.
o   Apabila disuruh bangun untuk melakukan hal-hal yang baik dan diridloi Alah, maka penuhilah suruhan tersebut.
o   Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat yang tinggi.
3.    Penjelasan
           Qur’an surat Al Mujadilah adalah surat yang ke 58 terdiri dari 22 ayat, termasuk golongan surat Madaniyah. Surat ini dinamai “ Mujadillah “ berarti wanita yang mengajukan gugatan. Karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa’labah terhadap sikap suaminya yang telah menziharnya.  Hal ini diajukan kepada Rosulullah SAW dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

Kamis, 11 Agustus 2016

PENDAIS

 


1.                Pengertian qalqalah
Qalqalah secara harfi/harfiyah (bahasa) artinya getaran, mantul atau membal. Pengertian qalqalah secara istilah  ialah memantul/getaran suara ketika membaca  kalimat (lafal) yang terdapat huruf berharakat sukun asli (asli mati) atau sukun karena waqaf /diwaqafkan.
Huruf qalqalah ada lima yaitu  ( قَطْبُ جَدٍ  ( ق , ط , ب , ج , د )

2.       Hukum Bacaan Mad Thobi’i Yang Benar
Jika Apabila ada alif ( ا ) terletak sesudah fathah atau ya’ sukun ( ي ) sesudah kasrah ( ―ِ ) atau wau ( و ) sesudah dhammah ( ―ُ ) maka dihukumi mad thabi’i . Mad artinya panjang  thabi’i artinya biasa. Cara membacanya harus sepanjang dua harakat atau disebut satu alif itulah cara membaca yang benar dan baik untuk hukm mad thobi’I ini

3.              Idgam Bilagunnah dan contohnya
Pengertian Idgam Bilagunnah, idgam berati masuk/lebur dan bila itu tidak, gunnah adalah suara yang keluar dari hidung atau dengung. Jadi pengertian idgam bigunnah adalah masuk atau lebur dengan tidak disertakan dengan suara yang keluar dari hidung atau tidak mendengung, yang berbeda dengan idgam bigunnah masuk dengan suara yang keluar dari hidung atau disertai dengung.
Huruf idgam bilagunnah ini ada 2 huruf, yaitu: Lam (ل) dan Ro (ر)
Jadi setiap ada Nun mati atau tanwin (fattah, kasroh, atau dhomah) bertemua dengan huruf yang dua tadi itu disebut dengan hukum bacaan Idgam Bigunnah.


4.              Pengertian Izhar
        Hukum bacaan izhar adalah membaca huruf nun mati dan tanwin dengan jelas dan terang (tanpa dengung) apabila bertemu dengan enam huruf-huruf izhar . Huruf-huruf Izhar adalah sebagai berikut:
Hamzah( ء ), Haa( ه ), Ain( ع ), Ha( ح ), Ghain( غ ),